Sulap Kulit Durian Jadi Aksesori 
 
SURABAYA - Banyak limbah yang dimanfaatkan menjadi barang berharga. Salah satunya, kreasi kulit durian ala Shella Christy Widodo. Mahasiswi Universitas Surabaya (Ubaya) jurusan desain manajemen produk itu mengubah kulit buah berduri tersebut menjadi aksesori seperti kalung, gelang, anting-anting, dan cincin.
 
Untuk membuat karya tugas akhir itu, perempuan kelahiran 24 Desember 1990 tersebut membutuhkan waktu selama satu semester. Hari ini tugas akhir itu akan diujikan.
 
Shella menceritakan, keputusannya memilih tema tugas akhir tersebut berawal dari ketidaksengajaan. Sekitar enam bulan lalu, saat melakukan perjalanan ke Trawas, dia melihat banyak kulit durian yang dibuang begitu saja di tempat sampah. Hal serupa terlihat tak jauh dari kediamannya di Sidoarjo.
 
''Sebenarnya, saya hobi makan durian dan sering melihat kulitnya keleleran. Tapi, saya baru tergerak untuk membuat karya dari limbah itu sekitar enam bulan lalu,'' ungkapnya.
 
Kebetulan, dia juga penyuka fashion. Jadilah ide kombinasi antara limbah kulit durian dan aksesori fashion. Eksperimen pun dia lakukan untuk menghasilkan karya yang terbaik.
 
Bungsu di antara dua bersaudara itu berniat mengomersialkan hasil karyanya. Tetapi, dia masih menunggu komentar para dosen terhadap karya tersebut. Sebab, hingga saat ini baru dosen pembimbingnya yang bernama Maharani Dian Permanasari yang paham detail karya itu. Dia mengaku masih butuh masukan dari lebih banyak dosen dan pakar industri kreatif. (rio/c8/fid) 
 
Sumber: Jawa Pos, 6 Maret 2013
 
 
Kulit Durian Disulap Jadi Perhiasan Etnik
 
SURABAYA-Buah durian, pasti banyak yang suka. Namun, seringkali banyak yang tak peduli dengan limbah kulit durian. Hal itu menginspirasi mahasiswa Jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya), Shella Christy W, membuat karya inovatif. Dia membuat limbah kulit durian menjadi perhiasan yang cantik dan etnik.
 
Karya Shella ini memang cukup spektakuler. Sebab, kulit`durian identik dengan duri-duri yang tajam. Tapi, dia berhasil mengolah dengan cantik. Dia menciptakan satu set perhiasan, yang terdiri atas kalung, gelang, cincin, anting, dan hiasan kepala dari kulit durian.
 
"Ide ini bermula dari kegemaran saya memakan buah durian. Setiap kali saya berburu durian di daerah Trawas, saya sering melihat tumpukan sampah kulit buah durian terbuang sia-sia. Dari situ, saya berusaha untuk melakukan inovasi menggunakan kulit durian ini," kata Shella, Selasa (5/3).
 
Untuk membuat perhiasan ini, kata Shella, membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Dan agar hasilnya bagus, dia tidak bisa langsung membuat karya yang jadi bagus dan cantik begitu saja.
 
"Saya mencoba banyak cara dan teknik. Mulai dari menggoreng, membakar, mengukus, dan lain-lain," terangnya.
 
Dari berbagai cara coba-coba itu, dia sempat praktik sekitar satu semester. Dan baru dia sreg menggunakan teknik mengolah dengan mengukus kulitnya.
 
Awalnya kulit durian dicuci bersih dan didiamkan tiga hari. Setelah itu, dikeringkan dua hari. Baru dikukus maksimal 2 jam. Setelah itu, kulit durian
digunting per ruas duri dan dipalu sampai gepeng. Ini dilakukan agar serat tidak putus. Lantas, bagian satu dengan yang lain dikaitkan dengan senar tipis, disesuaikan dengan model.
 
"Untuk merekatkan, maka menggunakan lem G. Nanti, di bagian akhir, dipernis. Jadi lebih bagus hasilnya," tuturnya.
 
Jika sudah paham, terang Shella, proses pembuatannya hanya dua minggu saja. Dia sendiri membutuhkan biaya Rp 390 ribu untuk pembuatan karya ini.
 
Ke depan, Shella mengaku ingin mengembangkannya sebagai sebuah peluang bisnis. Dia memang sempat terobsesi ingin membuat furniture dari limbah kulit durian. Namun, kali ini akan lebih fokus ke pembuatan perhiasan dulu.
 
Apakah bau durian bisa hilang? Ditanya hal itu, Shella menjelaskan, dalam proses pengukusan, aroma durian berubah seperti dodol. Sehingga, jika sudah sampai finishing, sudah tidak berbau lagi.
 
Sementara itu, dosen pembimbing Shella, Maharani Dian Permanasari menyatakan, dia berharap karya Shella ini bisa berlanjut ke wirausaha. Saat
ini, sudah mulai banyak yang melirik karena bentuk dan modelnya yang etnis. "Peluangnya sangat besar karena ramah lingkungan. Dan harapannya, nanti Shella bisa memanfaatkan pengrajin lokal untuk mengurangi limbah sampah,"
tuturnya. (nin)
 
Sumber: Radar Surabaya
 
 
Kulit Durian Disulap Jadi Perhiasan Etnik
 
SURYA Online, SURABAYA - Kulit durian yang selama ini terbung percuma. Di tangan Shella Christy Widodo, berubah menjadi perhiasan cantik.
 
Ada kalung, gelang, cincin, anting-anting hingga hiasan rambut yang dibuat mahasiswa Jurusan Desain Manajemen Produk, Fakultas Industri Kreatif, Universitas Surabaya (ubaya).
 
Bentuk dan modelnya tak kalah dengan perhiasan emas atau perak yang dijual di mal-mal.
 
Shella, panggilan gadis asal Sidoarjo ini mengaku mendapat ide membuat perhiasan dari durian setelah melihat banyak kulit durian yang terbuang sia-sia di kawasan Trawas. "Kebetulan saya penggemar durian. Jadi pas melihat itu kok sayang ya,"kata gadis kelahiran Semarang ini.
 
Shella lalu berpikir untuk membuat sesuatu dari durian. Karena menyukai aksesoris, Shella lalu mencoba mengolah kulit durian itu menjadi aksesoris. "Ternyata setelah saya amati, lebih cocok untuk perhiasan, jadi buat ini aja,"katanya sambil menunjukkan kalung etnik yang dibuatnya. 
 
Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/

Komentar

Postingan populer dari blog ini